Sekitar 4000 – 2000 Sebelum Masehi (SM), Noni yg disebut “Ashyuka” digunakan dalam sistem medis ” Ilmu Pengetahuan akan Kehidupan yg Panjang ” oleh orang Asia kuno. Naskah Ayurvedik kuno menyebut noni Ashyuka, bahasa Sansekerta menyebutnya “umur panjang”. Naskah tersebut menjelaskan bahwa noni menyeimbangkan tubuh, menstabilkannya dalam keadaan harmonis yg sempurna.
Sekitar 500 SM, para penjelajah meninggalkan Asia Tenggara, melakukan penyelidikan bagi cakrawala baru menyeberangi lautan. Mereka membawa serta tanaman yg diperlukan untu mempertahankan hidup seperti kelapa, pandanus, singkong, dan Noni yg berharga dan dinilai sebagai rahasia kesehatan.
Sekitar 200 SM – 200 M, para penjelajah yg jadi leluhur orang Polinesia menempati kepulauan bergunung api yg sekarang dikenal sebagai “Tahiti Nui”, merupakan lingkungan yg sempurna bagi Noni berkembang. Tanah yg subur, udara yg bersih dan sedikit flora lainnya membuat Noni tumbuh secara liar dan jadi pilar peradaban orang Polinesia. Tahiti didiami oleh orang Tahiti yg menyebarkan buah noni diseluruh Pasifik.
1769 M, Kapten James Cook dan krunya menemukan kepulauan yg bagaikan firdaus Tahiti. Dia mencatat penggunaan noni diantara penduduknya. Selama berabad-abad orang Tahiti hidup dalam keharmonisan bersama tanaman noni mereka dan memperoleh manfaat dari khasiatnya yg meningkatkan kesehatan. Semua bagian dari tanaman noni digunakan : buah, daun, benih, dan kulit kayunya. Pemahaman dan penggunaan noni diteruskan dari generasi ke generasi di Polinesia.

Tagged with:

Filed under: Tahitian-Nonitahitian-noni.biz

Like this post? Subscribe to my RSS feed and get loads more!