Saturday, January 21st, 2012 at
10:22 pm
Eka Ferianti isteri dari Fachri Fadillah di Jakarta menuturkan sebagai berikut :
” Saya sering merasakan sakit kepala namun biasanya dapat teratasi dengan minum obat yg dibeli diwarung. Pada tgl 29 Juli 2011 saya kembali merasakan sakit kepala. Seperti biasa saya minum obat warung tetapi kali ini tidak ada perubahan. Hal ini saya sampaikan suami dan lalu melakukan refleksi pada jempol kaki saya. Namun sakitnya malah menjadi jadi. Saya hanya bisa pasrah karena tidak tahu harus bagaimana lagi.
Besok malamnya saya ke dokter dan hanya diberi obat penenang.
Tanggal 31 Juli 2011 sakit kepala saya kambuh lagi. Kali ini minta ampun sakitnya, kepala seperti ditekan keras sehingga saya tidak kuat menahannya.
Tanggal 01 Augustus 2011 saya melakukan CT Scan pada kepala sesuai rekomendasi dokter. Dari hasil CT Scan saya divonis terkena kanker otak dengan diameter 3 cm. Kanker yg tadinya berada disebelah kiri depan, kini sudah mulai menyebar ke area otak sebelah kanan.
Masya Allah saya bagaikan disambar petir disiang bolong. Saya dan suami berusaha untuk sabar dan tenang lalu cerita pada orang tua. Masaalah ini diteruskan pada tante yg sudah konsumsi Tahitian Noni Bioaktif Beverage (TNBB) atau Tahitian Noni Jus. Selanjutnya saya diantar ke kantor Tahitian Noni (TNI) di Jakarta dalam keadaan sudah tidak ada keseimbangan untuk berdiri, syaraf mata sudah sakit, kuping berdengung dan terasa panas.
Oleh dokter di kantor TNI saya dianjurkan minum TNBB 30ml setiap satu jam dan pantang banyak makanan.
Setelah satu minggu ternyata tidak ada perkembangan yg signifikan. Saya mulai panik dan suami konsultasi kembali.
Dosisnya dirubah jadi 100ml per 3 jam, namun pelaksanaannya justru saya minum 200ml per 3 jam.
Hasilnya sangat luar biasa, saya mengalami detoks yg bervariasi.Dalam sehari saya bisa muntah beberapa kali dan air besar saya berwarna hitam pekat. Sempat saya patah arang tidak mau minum TNBB lagi karena efek detoks yg terlalu kuat. Untungnya saya dikelilingi oleh orang-orang yg sabar dan mau memberi pengertian maka saya lanjutkan minum TNBB.
Setelah dua bulan minum TNBB Alhamdulillah membuahkan hasil. Keseimbangan normal kembali, kuping tidak berdengung lagi, dan syaraf mata kembali normal. Saya mulai bisa beraktivitas seperti biasa dan pada bulan ketiga saya bisa kembali masuk kerja.
Kami sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau kami tidak mengenal TNBB. Berapa biaya yg harus dikeluarkan untuk operasi, kemoterapi, dan sebagainya.
Alhamdulillah Allah mengirimkan pertolongannya melalui TNBB. Ia’Orana.”
Dinda Alfiana Firda Terkena Radang Otak
” Saya ingin Dinda kembali seperti dulu” ungkap Fardiah Kurniati ibunda Dinda Alfiana Firda.
Dinda yg dulu aktif, cerdas, dan gigih belajar mengalami radang otak fatal, kemunduran perilaku seperti
anak kecil.
Berawal pada Januari 2006 dokter mengatakan Dinda mengalami epilepsi. Ia kerap kejang terutama bila
mengalami letih berat. Pulang dari tur sekolah di Bali dia mengalami kejang hebat selama tiga jam.
Dinda langsung dilarikan ke rumah sakit dan dirawat di ruang ICU selama 8 hari. Kejang hebat itulah
yg merusak susunan saraf otaknya sehingga terjadi radang yg fatal. Dinda tak mengenali sekelilingnya
termasuk keluarganya. “Oh Tuhan Dinda hilang ingatan”, jerit hati Fardiah. Dinda menderita Ensovalitis
(Radang Otak).
Selama dua bulan dirawat di rumah sakit, Dinda tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Dr. Haryo
Pratikno yg menanganinya menyarankan agar Dinda diberi minum Tahitian Noni Bioaktif Beverage (TNBB)
karena kandungannya yg mampu mengaktifkan kembali fungsi susunan sel syaraf yg lemah.
Sejak 14 Oktober 2009 Dinda minum TNBB sebanyak 3 x dua sendok makan /hari, setelah minum obat dokter.
Perubahan terjadi setelah Dinda minum botol yg kedua. Ia mulai bisa berjalan, dan berbicarapun sudah
mulai lancar. Kenangan lamanya sudah mulai terkuak, dan keceriaan Dinda pun sudah mulai terpancar kembali.
“Inikah jalan Tuhan untuk kesemmbuhan Dinda? Semoga saja TNBB jadi perpanjangan tangan Tuhan untuk mengembalikan kecerian dan kesehatan anakku” doa Fardiah Kurniati.